Posts

UUL PERGI JALAN-JALAN BERSAMA OM

Image
  UUL PERGI JALAN-JALAN BERSAMA OM Pada hari Minggu kemarin, Om Uul sedang libur bekerja. Karena memiliki waktu luang, Om Uul mengajak Uul pergi jalan-jalan ke pantai. Mendengar ajakan itu, Uul langsung melonjak gembira.  “Benarkah kita ke pantai, Om?”  tanya Uul dengan mata berbinar. Om Uul tersenyum sambil mengangguk,  “Iya, Uul. Ayo cepat bersiap supaya kita bisa lama bermain di sana.”  Dengan semangat, Uul segera mengambil topi dan sandal jepit kesayangannya. Sesampainya di pantai, Uul berlari-lari kecil menyambut suara ombak yang datang silih berganti.  “Om, lihat! Ombaknya tinggi sekali!”  seru Uul sambil tertawa. Om Uul ikut tertawa dan berkata,  “Ayo kita main ombak sama-sama, tapi jangan terlalu jauh, ya.”  Mereka pun bermain ombak bersama, sesekali Uul memercikkan air ke Om Uul hingga keduanya basah dan penuh tawa. Hari itu menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi Uul karena bisa menghabiskan waktu bersama Om di pantai. P

MEMBANTU MAMA MEMASAK SAMBAL KESUKAANKU

Image
  MEMBANTU MAMA MEMASAK SAMBAL KESUKAANKU Hari ini, Alzam membantu Bunda memasak sambal di dapur. Sejak pagi, ia sudah bersemangat karena tahu Bunda akan membuat ayam goreng kesukaannya. Ketika melihat Bunda menyiapkan bahan-bahan, Alzam berkata, “Bunda, Alzam boleh bantu tidak?” Bunda tersenyum dan menjawab, “Boleh sekali, Nak. Tolong ulek cabenya pelan-pelan, ya.” Dengan hati-hati, Alzam mulai mengulek sambal sambil sesekali mencium aroma masakan yang semakin sedap. Tidak lama kemudian, ayam goreng Bunda pun matang. Suara gorengan yang renyah membuat Alzam semakin tidak sabar. “Bunda, sambalnya sudah jadi!” seru Alzam bangga. Bunda melihat hasil kerja Alzam dan berkata, “Wah, hebat sekali. Terima kasih ya sudah membantu Bunda.” Mereka pun menata ayam goreng dan sambal di meja makan. Saat mencicipi masakan itu, Alzam tersenyum lebar. Hari ini terasa sangat menyenangkan karena ia bisa membantu Bunda dan menikmati makanan favoritnya.

BERMAIN PILTOL-PISTOLAN DENGAN KEPONAKAN

Image
  BERMAIN PILTOL-PISTOLAN DENGAN KEPONAKAN Hari itu, Fyan bermain bersama keponakannya yang bernama Irsyad. Mereka bermain pistol-pistolan di ruang keluarga dengan penuh semangat. Fyan berlari sambil berkata, “Awas, Irsyad! Aku tembak kamu!” Sambil tertawa, Irsyad ikut membalas, “Tidak bisa! Aku yang menang!” Namun saat sedang asyik bermain, tembakan mainan Fyan secara tidak sengaja mengenai Irsyad. Seketika Irsyad berhenti tersenyum dan mulai menangis. Melihat itu, Fyan merasa bersalah. Ia segera mendekati Irsyad dan berkata dengan lembut, “Maaf ya, Irsyad… Fyan tidak sengaja.” Irsyad mengusap matanya dan menjawab lirih, “Iya… tapi sakit.” Fyan memeluknya sambil berkata, “Aku janji hati-hati lagi.” Irsyad pun akhirnya tersenyum kembali dan membalas pelukan itu. Setelah kejadian itu, mereka kembali bermain dengan lebih berhati-hati dan tetap rukun.

ISAN SUKA KEKAMPUNG NENEK

Image
  ISAN SUKA KEKAMPUNG NENEK Hari libur sekolah adalah waktu yang paling ditunggu oleh Isan. Seperti biasa, ia akan berlibur ke kampung nenek. Pagi itu, Isan menaiki motor bersama Papa, Mama, dan Uni untuk menempuh perjalanan sekitar dua jam. Di sepanjang perjalanan, Isan menikmati pemandangan yang indah. “Papa, lihat! Gunungnya besar sekali!” seru Isan sambil menunjuk ke kejauhan. Papa tersenyum dan menjawab, “Iya, Nak. Kampung nenek memang dikelilingi pemandangan yang cantik.” Mama pun ikut berkata, “Lihat juga sawah dan burung-burung itu. Indah, bukan?” Isan mengangguk penuh kagum. Setibanya di kampung nenek, Isan langsung bersemangat. Begitu turun dari motor, ia berlari kecil ke arah halaman sambil memanggil, “Nek, Isan datang!” Nenek menyambutnya dengan pelukan hangat. Setelah beristirahat sebentar, Isan mulai menjelajah halaman rumah nenek. “Uni, ayo ikut! Kita cari kerang dan tangkap ikan,” ajak Isan penuh antusias. Uni tertawa dan menjawab, “Ayo! Tapi hati-hati ya, San....

BERLIBUR KE KAMPUNG HALAMAN

Image
  BERLIBUR KE KAMPUNG HALAMAN Hari ini adalah hari libur sekolah, dan aku ikut Ayah, Bunda, serta adikku pergi ke kampung halaman dengan mobil. Sejak pagi aku sudah bersemangat. Dalam perjalanan, aku menempelkan wajah ke jendela mobil sambil berkata, “Ayah, lihat! Itu laut! Dan di sana ada gunung!” Ayah tersenyum melalui kaca spion dan menjawab, “Iya, indah sekali, ya. Makanya Ayah suka perjalanan ke kampung.” Bunda juga ikut melihat pemandangan dan berkata, “Nanti kita berhenti sebentar kalau cuacanya cerah.” Namun tiba-tiba hujan turun dengan deras, membuat suasana perjalanan menjadi lebih sejuk. Sesampainya di kampung halaman, hujan mulai mereda. Aku langsung turun dari mobil dan melihat kakek, oma, cece, dan om sudah menunggu di teras. “Halo semuanya!” seruku sambil berlari kecil menghampiri mereka. Oma memelukku sambil berkata, “Wah, cucu Oma sudah besar!” Kakek tersenyum dan menepuk bahuku, “Ayo masuk, pasti capek setelah perjalanan jauh.” Aku merasa sangat senang bisa ...

KEGIATAN KU PAGI SABTU

Image
  KEGIATAN KU PAGI SABTU P agi tadi, sekitar pukul 07.30, Fai bersama kedua kakaknya membantu Bunda membersihkan rumput di halaman rumah. Dengan penuh semangat, Fai mencoba mencabut rumput meskipun terasa agak sulit. “Bundaa, rumputnya kuat sekali,” keluh Fai sambil tertawa kecil. Bunda mendekat dan berkata, “Tidak apa-apa, Fai. Yang penting berusaha, ya.” Mendengar itu, Fai kembali bersemangat. Setelah semua rumput selesai dibersihkan, Fai segera mencuci tangan dengan sabun lalu menikmati segelas teh hangat yang sudah disiapkan Bunda. Tak lama kemudian, Bunda mengajak Fai pergi ke pasar Simpang Haru untuk membeli ayam yang akan dimasak untuk makan siang. Dalam perjalanan, Bunda menoleh dan bertanya, “Fai senang tidak membantu Bunda tadi pagi?” Fai tersenyum lebar dan menjawab, “Senang sekali, Bunda!” Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan gembira. Setelah selesai berbelanja, mereka pulang ke rumah dengan selamat. Hari itu terasa sangat menyenangkan bagi Fai karena dapat memb...

KEGIATAN SAPAKU (SARAPAN PAGI)

Image
  KEGIATAN SAPAKU (SARAPAN PAGI) Pagi itu, Balqis tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Setelah meletakkan tasnya, ia langsung menuju meja guru untuk mengecek apakah bukunya sudah disiapkan. Dengan penuh semangat, ia membuka tumpukan buku dan berkata pelan, “Hmm… buku Balqis yang mana, ya?” Tak lama kemudian, ia menemukannya dan tersenyum puas. “Ini dia! Saatnya mengerjakan tugas,” ujarnya sambil duduk di bangkunya. Balqis pun mulai mengerjakan tugas dengan tekun, halaman demi halaman. Setelah selesai, Balqis tetap berada di dalam ruangan sambil menata kembali bukunya. Sesekali ia melihat jam dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sebentar lagi masuk, ya?” Tidak ada murid lain yang datang, namun Balqis tetap sabar menunggu. Suasana kelas masih tenang ketika akhirnya lonceng berbunyi. “Nah, akhirnya mulai juga!” seru Balqis dengan senang. Ia pun bersiap mengikuti pelajaran dengan penuh antusias.